Hari ini aku baru aja selesai baca buku Matinya tuhan komunis. Hee…. Ngeri ya judul bukunya. Isinya tentang
pengalaman- pengalaman pribadi 6 orang intelektual ( kebanyakan penulis ) dari
beberapa Negara ketika menjadi pengikut faham komunis, dan mengapa kemudian
mereka memutuskan untuk berpaling dari faham ini

Nih buku bagus banget, harian New York Herald Tribune nulis di sampul buku ini sebagai “sebuah kontribusi penting bagi pemahaman
kita yang lebih lengkap dan mendalam tentang komunisme
”. Dan memang setelah
baca buku ini, aku jadi setidak-tidaknya punya gambaran yang lebih jelas
bagaimana komunisme lahir dan berkembang menjadi faham yang begitu popular dan
kenapa tiba-tiba runtuh, dimusuhi diseluruh dunia, dan dianggap sebagai faham
yang sesat seperti fasisme Italia dan jerman.

Komunisme sendiri muncul saat itu karena adanya perbedaan
yang sangat mencolok antara kaum pemilik modal dan tuan2 tanah ( kaum borjuis )
dengan kaum pekerja kebanyakan. Karena pada saat itu pekerja dianggap sebagai
faktor produksi dan sesuai ilmu dasar ekonomi, faktor produksi ditekan sekecil-kecilnya untuk  mendapat untung yang sebesar-besarnya.

Perbedaan ini membuat seorang bernama Karl Marx
berangan-angan menciptakan dunia baru yang lebih adil, dunia yang setara dan
sama rata, yang hanya dapat dicapai dengan penghapusan kelas dan menjadikan
dunia yang tanpa kelas. Ideologi ini lebih kita kenal dengan nama Marxisme, ayah dari sosialisme dan komunisme.
Ide ( yang revolusioner ) ini segera mendapat sambutan luas di kalangan kelas
pekerja, dengan semangat besar mereka mulai mengorganisasi diri, mengadakan
aksi, rapat-rapat umum, demonstrasi dan pemogokan buruh. Tujuan mereka adalah
meniadakan perbedaan kelas dan mewujudkan tatanan dunia baru yang lebih
bermartabat.

Pada perkembangannya Marxisme berbaur dengan paham-paham
lain (yang terkadang bertolak belakang dengan pandangan marxisme sendiri )
hingga terciptalah paham komunisme yang dengan cepat menyebar ke seluruh eropa
bahkan dunia dengan uni soviet sebagai pusatnya. Banyak orang ( karena
kepolosan dan kebencian mereka terhadap kapitalisme ) yang silau dan terpana
dengan slogan-slogan dan propaganda partai. Namun demikian, cita-cita yang
diagungkan itu tidak pernah terwujud, persamaan yang didambakan tetap menjadi
mimpi yang semu.

Komunisme sendiri pada akhirnya berkembang menjadi sebuah
partai kediktatoran, yang menistakan manusia dan kemanusiaannya. Segala
kebijakan yang berlaku adalah kebijakan partai, hanya ada satu pendapat yang
benar yaitu pendapat partai, segala kepentingan adalah kepentingan partai.
Seluruh kritikan terhadap keputusan yang telah diambil dianggap penyelewengan
terhadap partai, dan memikirkan diri sendiri dianggap bermental borjuis, tidak
setuju dianggap mata-mata pendukung trotsky, jika sudah demikian maka
bersiaplah dicap sebagai kontrarevolusioner,
sebuah kata yang berarti, pengucilan, pemfitnahan, sabotase dan penyingkiran
dari dunia. Bahkan untuk menegaskan hal tersebut, slogan partai komnuis di
jerman waktu itu adalah: “ Garis depan
bukanlah tempat untuk berdiskusi.”
Dan slogan lain mengatakan: “ Dimanapun seorang komunis berada, dia
selalu di garis depan.”

Kegagalan komunis yang lain adalah mencintai orang miskin. Stephen Spender mengutip : “ Partai mengajarkan kebencian kepada kaum
borjuis tapi tidak pernah menganjurkan kasih sayang pada kaum miskin.”

Para pekerja tetap hidup daam kondisi yang menyedihkan.
Lenyapnya kapitalis tidak menghadiahkan kesejahteraan untuk mereka. memang
mereka sudah tidak lagi dieksploitasi oleh pemilik modal, namun mereka tetap
dieksploitasi, dan eksploitasi itu sedemikian licik, rumit, dan berbelit-belit
hingga mereka tidak tahu lagi siapa yang harus dipersalahkan. ( Andre Gide, hal
257)

Kalimat marx yang sangat dikenal adalah yang mengatakan
bahwa “Agama adalah candu bagi rakyat.” Namun dalam perkembangannya Marxisme
justru menjadi lebih dari sekedar candu bagi peradaban manusia. Ratusan juta
orang menjadi korban dalam usaha menegakkan , apa yang disebut oleh kaum
Bolshevik, sebagai sebuah tatanan dunia
baru, bahkan korban ini jauh lebih buruk dari korban kekejaman fasis
jerman dibawah kekuasaaan Hitler.

Nah, demikian ringkasnya isi buku ini, lebih lengkapnya dan
lebih menariknya, silahkan teman-teman baca sendiri bukunya. Yang pasti, buku
ini telah memberikan sebuah “pemahaman
yang lebih lengkap dan mendalam
” tentang komunisme