We….. Aku seneng banget, karena ternyata bulan ini aku bisa nyelesaiin baca novel yang judulnya 5 cm. Jadi bisa buatin resensinya, padahal bulan ini rencananya Cuma mo posting 1 buku ( Kok ga ada yang ngekomen sih, terlalu berat ya bukunya?? ). Nih buku dipojok kanan sampulnya terdapat tulisan Best Seller ga tau ni buku emang beneran best seller ato Cuma biar jadi best seller makanya ditambahin kata Best seller di sampulnya. Wah, kalo bener kayak gitu berarti termasuk penipuan publik nih. Harus dilaporin ke YLKI, tapi paling ntar di YLKI Cuma ditampung dan hanya ditampung, ga di-apa-apain. Jadi males ngelaporin, mending didiemin aja, peduli kucing mau bener ato gak. Tapi memperhatikan fakta bahwa buku ini sudah di cetak ulang untuk ke-4 kalinya dalam tempo 8 bulan, kata best seller sepertinya tidak begitu mengherankan.

Eniwe, on de we, dewe-dewe…………… Nih novel sebenarnya cukup bagus, idenya menarik, tentang persahabatan. Penulisnya sendiri sepertinya punya pengetahuan yang luas tentang lirik lagu, film, artis-artis Hollywood, sampe ke filsafat-filasafat Yunani kuno. Ga percaya? Baca sendiri lah…. Kamu-kamu bakal ngedapetin buuanyak banget, kata-kata bijak, lirik-lirik lagu local ampe manca, dialog-dialog film, nama artis-artis mulai yang paling top hingga ke artis yang paling blusukan klo mo nyari album ato filmnya, penulisnya kayaknya terlalu bersemangat memamerkan pengetahuannya sehingga terkesan agak sedikit over acting. Kata-kata bijak dalam sebuah novel dapat diibaratkan sebagai bumbu agar cerita memiliki makna yang lebih dalam. Namun sebagaimana masakan, bumbu yang kebanyakan justru akan merusak rasa makanan itu sendiri.

Dari sisi cerita, nih novel kayaknya pengen nyiptain 5 tokoh utama sekaligus, tanpa satu tokoh-pun yang lebih ditonjolkan dari tokoh-tokoh lain. Ibaratnya bikin cerita power rangers tanpa ranger merah, ato kalo nggak, ranger biru semua. Penokohannya sendiri tidak begitu kuat, karakter 1 tokoh dengan yang lainnya tidak terlihat jelas. Paling banter Hanya ada 2 tokoh yang cukup kuat, yaitu Zhafran, si penyair amatir dan Riani, itu pun karena dia satu-satunya cewek di geng tersebut. Selebihnya hampir secara umum digambarkan ”sama”. Sama-sama filsuf, sama-sama pemerhati negeri, sama-sama pinter lagu ma film lengkap dengan aktor-aktornya.

Percakapan yang terjadi pun tidak menunjukkan adanya perbedaan karakter dari 1 tokoh ke tokoh lainnya, semua memakai jenis bahasa yang sama, dan dengan pola pikir yang sama. Sehingga kelihatannya hanya ada satu tokoh yang bercakap-cakap dengan nama yang berbeda-beda.

Tapi seperti yang sebelumnya aku katakan, ide ceritanya bagus, tentang persahabatan dan cita-cita. Dan seperti layaknya novel-novel persahabatan lainnya, novel ini cukup menyentuh dan cukup membuat orang yang membacanya menerawang berangan-angan ( Tapi tidak sampai menangis ).

Bagian terbaik dari cerita ini adalah ketika kelima sahabat ini mencapai puncak mahameru, puncak tertingi di tanah Jawa, lambang keagungan dan keanggunan tanah jawa. Mungkin sebagai sesama pendaki yang sama-sama pernah merasakan bagaimana beratnya perjuangan mencapai puncak, emosiku ikut bergejolak disana. Membaca saat-saat menuju puncak mengingatkan ku pada saat-saat pertama kali aku mencapai puncak gunung Batur atau saat-saat perjuangan ku mencapai puncak merbabu yang kucapai dengan perjuangan yang tidak ringan, persis seperti dalam novel ini.

Walaupun demikian penilaian ini, sebagaimana resensi-resensi yang ditulis oleh orang lain, mungkin dapat dikatakan mengandung unsur subyektifitas yang tinggi. Mungkin jika teman-teman membaca sendiri novel 5 Cm ini, teman-teman tdak akan sependapat penuh dengan ku. Tapi hal itu tentu tidak jadi masalah yang besar, karena suka ataupun tidak suka, hal itu tergantung dari si pembacanya.

Salam baca.